Analisis Bentuk Pemerintahan Taliban
Yusep Munawar Sofyan
Yusep Munawar Sofyan
Afganistan termasuk salah satu Negara di Asia Tengah yang kehidupan politiknya selalu di hantui oleh masalah, apakah itu masalah konplik internal bahkan sampai kepada konplik eksternal yang melibatkan beberapa komponen yang menginginkan keberadaan Afganistan untuk dijadikan Negara boneka.
Konplik-konplik yang terjadi diantaranya di sebabkan oleh keinginan penguasa untuk mengauasai Afgaistan dengan cara apapun. Pertarungan antar suku menjadi pertarungan yang relative sering terjadi meskipun ini bukan satu-satunya penyebab pertikaian di Afganistan.
Secara kategoris ada beberapa penyebab pertikaian di Afganistan, diantaranya : pertarungan Suku, Pertarungan Madzhab, pertarungan ideology, bahkan pertarungan yang mengindikasikan pembelaan terhadap hak milik yang dimiliki oleh Afganistan sendiri.
Dari beberapa pengalaman yang pahit (pengalaman konplik yang terjadi) ternyata Afganistan menorehkan sebuah fenomena baru dalam pemerintahan yakni sebuah rezim yang berkuasa di Afganistan yang sebelumnya merupakan salah satu Alat (Amerika) untuk menyaingi Alat dari Negara Lain (Uni Soviet). Fenomena tersebut adalah Taliban.
Taliban adalah sebuah rejim yang dikuasai oleh mayoritas bahkan system pemerintahan yang dipakaipun adalah Sistem ‘Islam’. Dalam pembahasan ini akan diuraikan salah asatu bentuk (system) pemerintahan yang pernah berlaku di Afganistan dari sekian bamnyaknya bentuk pemerintahan yang pernah berlaku di Afganistan.
Pembahasan
Afganistan merupakan sebuah kawasan yang amat komplek yakni, sebuah wilayah yang memiliki kelebihan alam yakni daerahnya meliputi: padang pasir yang bergunug-gunung, Lembah yang subur, Sungai, dan Wadi yang terpencil.[1] Keadaan alam seperti inilah yang mkenguntungkan bagi Mujahidin dalam mempertahankan kawasanya sehingga sampai detik ini pun Afganistan belum 100% bersih dari cengkraman Mujahidin.
Afganistan merupakan Negara Republik di Asia Tengah; berbatasan dengan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tadzikistan di utara, RRC di timur laut, Pakistan di timur dan selatan, serta Iran di Barat.keadaan seperti inilah yang mengakibatkan banyak Negara-negara adiadaya khususnya Blok Timur (Uni Soviet) dan Blok Barat (Amerika dan sekutunya) menginginkan keberadaan Negara dengan salah satu poin yakni Afgan merupakan jalan darat termudah untuk menyalurkan hasil BUmi dari Turkmenistan (keinginan Barat). Ditambah Afganistan menyimpan cadangan minyak sebesar 260 milyar barel. Jumlah ini terbesar kedua setelah Teluk. Selain itu, di negeri ini pula terdapat kandungan 664 trilyun kaki kubik gas natural, yang berarti jumlah ini adalah 1/8 dari cadangan dunia. Afganistan juga mempunyai deposit uranium sangat besar.[2]
Selain daerahnya yang sangat strategis untuk sentar perdagangan dan eksploitasi, keadaan masyarakatnya pun mendukung akan adanya eksploitasi mengingat, banyaknya suku-suku yang berada di Afganistan, Pusthun 38 %, Uzbek, 6 %, Hazara 19 %, Tajik 25 %. Keadaan seperti inilah yang sering dijadikan komoditi untuk ‘mencaplok’ Afganistan mengingat di Afganistan terlihat adanya dominasi dari salah satu kelompok, kemudin kelompok-kelompok yang berada di Afganistan pun memiliki keterkaitan Ideologis dengan Negara-negara tertentu.
Hamper seluruh penduduk Afganistan menganut agama Islam. Agama Islam sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan mereka, bila hal ini terusik, maka rakyat Afganistan akan gusar dan mengangkat senjta untuk mempeerjuangkan Islam. Salah satu contoh adalah perjuangan mempertahankan Islam dari pemerintahan prokomunis.
Islam masuk ke Afganistan sejak Asim bin Umar Attamini masuk Afganistan yakni pada masa khalifah Umar bin Khatab. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Islam memasuki Kabul. Islam semakin mengakar terutama di bawah futuhat (penakluk) Mahmud Gaznawi.
Tercatat beberapa penaklukan dan bentuk pemerintahan pernah ada diu Afganistan. Afganistan menjadi semacam benda yang menarik untuk diperebutkan. Diantara penguasa-penguasa yang telah berhasil menduduki Afganistan adsalah : bangsa Monggol di bawah Jengis Khan tahu 1219, ketika bangsa Monggol mulai terpecah, banyak dari bangsa Afganistan memisahkan diri dan memebentuk pemerintahan, kemudian terjadi perang suku, maka muncullah Dinasti Durrani dibawah pimpinan Syah Durrani 1747, perang saudara terjadi lagi tahun 1819-1835 berakhir ketika Dost Muhammad mengangkat dirinya sebagai emir.
Percaturan politik di Afganistan tambah serui ketika dua blok adikuasa berkepentingan terhadap Afganistan, pertama, Blok barat yakni diwakili oleh Inggris ingin menguasai Afganistan setelah berhasil mengauasai India. Kedua, Blok timur yang diwakili oleh Uni Soviet sebelum akhirnya terpecah belah menjadi Negara-negara kecil.
Pertarungan kepentingan politik dipicu oleh doktrin geo politik Barat yang menempatkan Afganistan dan kawasan Asia Tengah sebagai pusat Dunia. Pertarungan politik ini disebut oleh pakar barat sebagai The Great Game.[3] The Great Game, berakhir 1907 dengan perjanjian Rusia-Inggris, yang menempatkan Afganistan harus dihormati Inggris maupun Rusia dan menjadi Negara pemisah (buffer state) antara imperialisme Inggris dan Rusia.
Konplik Afganistan kembali berkobar dengan masuknya kembali intervensi Asing dalam pemerintahan local, yakni ketika Muhammad Zahir Syah naik sebagai raja tahun 1933. Intervensi Amerika sanagt mengganggu pemerintahan Zahir Syah dengan membujuk Zahir Syah agar mengadakan revolusi kebudayaan, diperkeruh dengan keikut sertaan Uni oviet memberikan pengaruh kepada Zahir Syah, salah satu keberhasilan Uni Soviet adalah ketika Zahir Syah mengangkat sepupunya Muhammad Daud sevagai perdana mentri dan ia merupakan kader Komunis.
Melihat keadaan ini umat Islam merasa bahwa pemerintah Afgan merasa jauh menyimpang dari ajaran Islam, sehingga mereka mulai bergerak dengan membentuk Organisasi, maka muncullah perjuangan Gabungan mahasiswa Muslim yang bernama Juanan Muslim, kemudian berubah nama menjadi al-Jamiah al-Islamiyyah (1968), di bawah pimpinan Burhanuddin Rabbani.
Dalam pemerintahan, muncul pemerintahan tandingan dari pihak Mujahiddin. Pemerintah ini diakui kebanyakan Negara timur tengah. Bahkan wakil Negara-negara Islam timur tengah, pada tanggal 11 November 1991 delegasi dipimpin oleh Rabbani mengadakan kunjungan ke Uni Soviet dengan maksud untuk mengadakan perundingan damai setelah 13 tahun berperang.
Konplik Politik Afganistan
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat di runut sebagi sumberkonplik di Afganisan: pertama, Konplik antar suku (perang saudara), Kedua, konplik kepentingan politik blok barat dan Blok Timur, Ketiga, konplik ideology dan kepentingan Amerika.
Pertama, Konplik yang didasari oleh Pertarungan antar Suku, konplik ini setidaknya terjadi atas dominasi-dominasi suku tertentu untuk mengauasai Afganistan, kedua keadaan politik Afganistan yang tidak menentu sehingga menyebabkan banyak terjadi kudeta yang dilakukan meski bukan atas nama suku tertentu.
Kedua, Konplik politik yang disebabkan oleh kepentingan politik dua Blok dunia yang menjadi Adi Kuasa, yakni mereka memeliki kepentingan politik jangka panjang untuk mengauasai Afganistan, maka segala hal yang ada di Afganistan akan dijadikan alat untuk mencapai kekauasaan tersebut, terbukti dengan banyaknya penguasa yang akhirnya berideologi tertentu dan melakukan kudeta atas permintaan penguasa dibeklangnya.
Ketiga, mungkin ini yang belum banyak tereksplorasi dalam prolog diatas, tapi sebagai pengantar bagai mana kita melihat sebuah realita penyebab Amerika membenci ‘Islam’ yang diyakini oleh Taliban. Apakah itu murni kebencian atas Agama? Atau bahkan ada sebuah harapan yang besar dari sesuatu yang dimiliki oleh Afganistan? Sebagai bahan catatan Taliban merupakan Anak kandung dari Amerika (keberadaanya pernah didanai olehAmeriika).
Setidaknya itu gambaran umum konplik yang terjadi di Afganistan, hamper seluruhnya bermotif kepentingan. Adapun periodesasi setidaknya terbagi kedalam 11 periode : Pertama, sebelum tahun 651 M. yang diinamakan periode sebelum Islam. Kedua, Tahun 624-1747 M disebut Afganistan di bawah Pengaruh Islam. Ketiga, tahun 1747-1826 M, Kekuasaan Dinasti Durrani. Keempat, tahun 1929-1973 M, Dinamakan Dinasti Nadzir Syah dan Zahir Syah. Ketujuh, 1973-1978 M dinamakan Republik Afganistan Daud. Kedfelapan, 1978-1992 M dimnamakan masa intervensi Soviet Union. Kesembilan, 1992-1994 M Najibullah rabbani berkuasa.[4]Kesepuluh, 1996-2001 Pemerintahan Islam Taliban berkuasa. Kesebelas, 2001-sekarang pemerintahan boneka Amerika Serikat.[5]
Sistem Pemerintahan Taliban
Taliban adalah sebuah gerakan para pelajar Islam (Al Harakah Al Islamiyah Lit Thalabah madaris Ad Diiniyyah) yang sedang belajar di Pakistan. Kata Taliban berasal dari Bahasa Afganistan yang serupa dengan bahasa Arab yang berarti Pelajar. Berikut data-dta Taliban.
Bendera Taliban berwarna Putih beruliskan “laa Ilaaha Illa Allah, Muhama Rasulullah.” Menilik dari benderanya ini jelas kelihatan bahwa Taliban memakai symbol-simbol keagamaan dalam perjalanan politiknya.
Kelahiran Taliban dilator belakangi oleh banyak factor, secara umum dapat dikategorikan kedalam dua bagian. Pertama, Faktor internaldisebabkan adanya perang saudara, konplik dan pembu nnuhan antara penganut Syiah dan Sunni, demoralisasi, praktek dan KKN. Faktor kedua, yakni Eksternal yakni pengaruh dan tekanan Pakistan yang ingin mengganti penguasa sebelumnya, Burhanuddin Rabbani , dengan pemimpin oposisi terbesar, Hekmatyar dan Syah Masood, serta dukungan AS terhadap gerakan Taliban.
Gerakan Taliban didirikan pada Juli 1994 diwilayah Kandahar, selatan Afganistan. Pada Oktober 1994 secara resmi diproklamirkan, pada 1955 mereka mengauasai beberapa kota penting termasuk Kabul. Pada 1996 Tasliban resmi berkuasa dan pemimpin sebelumnya melarikan diri ke wilayah utara, yang hingga kini masih dikuasai oleh kelompok Oposisi pro Barat.
Taliban lebih condong kepada suku terbesar Pasthun 38 %. Sasaran dari pendirian Taliban adalah mendirikan pemerintahan Islam dengan syariat Islam sebagai dasar Negara. Memilih para ulama dan tokoh Islam yang amanah untuk menduduki jabatan pemerintahan Negara. Bagi wanita diwajibkan memakai jilbab. Selkain itu, membentuk tentara Islam sebagaimana masa Rasulullah dan mendirikan lembaga Amar makruf nahi Munkar.
Pemikiran Islam yang diikuti oleh Taliban adalah Aliran maturidiyyah (bagian dari aliran Sunni) yang meyakini ikhtiar (usaha), sebaliknya menolak paksaan sebagai mana dianut aliuran mu’tazilah. Dari segi Fiqih Taliban menganut Madzhab hanafiyyah sebagai madzhab resmi Negara.
Pandangan mengenai Pemerintahan[6]
Taliban Tidak Mengakui keberadaan Demokrasi, bentuk pemerintahan menurut Taliban adalah dengan bentuk Teokrasi dimana kekuasaan sepenuhnya milik Allah. Untuik menjalankan roda pemerintahan, berada di tangan Amirul Mukminin yang dipilih dari dewan Ulama., Taliban tidak percya terhadap asas syura, keputusan terakhir berada di tangan Amir. Taliban juga mengharamkan segala sarana informasi.
Jabatan tertinggi adalah Amirul Mukminin, yang kini dipegang oleh Mullah Muhammad Omar. Perintah dan keputusan amir wajib dilaksanakan dan tidak boleh bertentangn dengan prinsif Islam. Jabatan Amirul mukminin dipegang seumur hidup dan ini berlaku secara bakju dalam system hokum pergantian aparatur pemerintahan. Pelaksana harian pemerintahan dipegang oleh Wakil Amir, adapun kerja dari Wakil Amir yakni mengadakan siding cabinet seminggu sekali, majelis pelaksanan pemerintah tersebut disebut Majlis Syura Alamy.
Pengambilan keputusan akhirnya dikeluarkan oleh Amirul mukminin, meski terdapat Dewan Syura (pelaksanan pemerintahan), tapi lembaga ini tidak mempunyai konsep baku, karena segala keptusan yang dikeluarkan harus melalui persetujuan akhir Amir dan ini menjadi sebuah peraturan yang baku
Taliban memiliki Dewan Fatwa Ita’ Pusat (semacam MUI) beranggotakan para ulama terkenal beramanah. Tugasnya memberikan penjelasan berkaitan masalah agama dan mengeluarkan fatwa penting.
Dalam perjalanan karirnmya Taliban merupakan salah satu fenomena Negara Islam yang cukup berarti bagi masyarakat Afganistan, seperti telah dipaparkan diatas bahwa keadaan pemnerintahan di Afganistan tidaklan bersih banyak praktik-praktik KKN, demoralisai, bahkan sampai kepada masalah yang frinsipil yakni bnayk dari pemangku jabatan pemerintah yang telkah ikut Beraffiliasi dengan pemerintahan lain-Rezim Komunis Uni Soviet dan Rezim Kapitalistik Inggris dan Amerika- sehingga membuat keadaan rakyat tidak menentu secara financial.
Maka dengan hadirnya kelompok Taliban yang sebelumnya merupakan sekumpulan peljar yang bearni untuk berperang mempertaruhkan nyawa demi keutuhan Negara dan kejayaan Islam.
Kasus-kasus tersebut dapat diselesaikan dengan bentuk pemerintahan yang sentralistik yakni segala keputusan akhirnya dikeluarkan oleh Amir Mukminin meskipun sebelumnya telah ditetapkan hokum oleh pelkaksanan pemerintahan.
Kepemimpinan seumur hidup mengingatkan kepada sebuah system pemerintahan Gaya Rasulullah dan Khulafaurrasidiin, yakni seluruhnya diganti ketika azal menjemput mereka. Mungkin landassan sosio histories ini yang menjadi landasan mereka.
‘Ayah’ membenci Taliban
Taliban seperti yang telah disebutkan di atas ada beberapa indikasi kalau Taliban didanai oleh Amerika dengan perantara Pakistan. Burhanuddin Rabbani, mantan kepala pemerintahan koalisi Afganistan dari etnis Tajik, mengatakan Taliban dibentuk, dilatih, dan dipersenjatai AS di Pakistan saat itu asdalah menghakhiri pemerintahan minoritas Tajik dan Uzbek, dan mnegmbalikanya ketangan Pastun.[7]
Setidaknya Ada dua alasan yang bisa dijabarkan di sini , Prtama, Taliban tidak membalas budi terhadap Pakistan khususnya Amerika, dan malah mendirikan Negara Islam versi Taliban. Kedua, setelah berkuasa Taliban yang termasuk kelompok mujahidin yang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, memberikan pembelaan bahkan perlindunganm terhadap Osama bin Laden pemimpin Al-Qai’dah[8]
Pembelaan Taliban terhadap Osamapun bukan tanpa alasan, mengingat Osama adsalah pejuang Islam yang tidak kenal lelah membantu perjuangan MUjahidin Afganistan dalam menciptakan kemerdekaanya. Politik balas budi ini yang sangat menarik untuk dikaji, mengingat dengan adanya politik balas buudi tersebut segala akses Taliban bahkan pemerintahan Taliban dengan mudahnya di hancurkan oleh Amerika.
Ada beberapa bentuik perjanian bahkan himbauan terhadap Taliban untuk mnyerahkan Bin Laden, pada bulan Fewbruari 1997 Taliban menolak perjanjian Amerika untuk mnyerahkan bin Laden kepada mereka dengan imbalan pengakuan internasioinal dan kursi di organisasi internasional di Afganistan.[9] BAB VII dari piagam PBB, Dewan Keamanan pada tanggal 15 Oktober 1999 menghimbau kepada faksi Afganistan yang dikenal dengan nama yaliban, untuk mnyerahkan Osama bin Laden ke pihak berwenang di sebuiah Negara dimana ia dapat diajukan kepengadilan. Dalam kontek yang sama, Dewan keamanan memutuskan bahwa pada tanggal 14 November 1999 seluruh Negara akan memnbekukan rekening Taliban dan melarang penerbangan dan pendaratan pesawat Taliban kecuali Taliban himbauan menyetujui himbauan tersebut. Karena tidak dihiraukan himbauan tersebut, maka resolusi tersebut dijlankan.[10]
Mungkin itulah perjalanan karir dari Taliban di Afganistan secara structural mengauasai Negara, namun perjuangan mereka masih belum usai terbukti dengan ucapan Mullah Muhammad Umar, pemimpin tertinggi Taliban “ Kami memiliki senjata yang dapat digunakan untuk melakukan peperangan hingga 60 tahun ke depan.”[11] Ini merupakan suatu bukti bahwa semangat perjuangan untuk menegakan kalimat Islam terus berkobar. Wallahu’alam.
Daftar Pustaka
Buku
Maulani, Z.A, Perang Afganistan; Perang Menegakan Hegemoni Amerika di Asia Tengah, (Jakarta : Dalacanang Seta, 2002
Ensiklopedia Indnesia Seri Geografi, (Jakarta : PT. Internasa, 1990, cet I)
Mahally, Abdul Halim, Membongkar Ambisi Global AS, (Jakarta : PT SUrya Multi Grafika, 2003, Cet I)
Johani, Wahyu D. Syekh Guevara Bin Laden;Sang Pemberontak Revolusioner, (Surabaya: ROTASI POLITIKA; 2002, cet I
Disarikan dari Republika 22 Oktober 2001
www. Wikipediaindonesia.com
[1] Z.A maulani, Perang Afganistan; Perang Menegakan Hegemoni Amerika di Asia Tengah, (Jakarta : Dalacanang Seta, 2002)h. 1-3
[2] Republika 22 Oktober 2001
[3] The Great Game dimulai ketika Inggris ingin mendahului Rusia dalam mengausai Afganistan. Lihat Republika, 22 oktober 2001
[4] Ensiklopedia Indnesia Seri Geografi, (Jakarta : PT. Internasa, 1990, cet I) h. 25-27
[5] Abdul Halim Mahally, Membongkar Ambisi Global AS, (Jakarta : PT SUrya Multi Grafika, 2003, Cet I)h. 49
[6] Disarikan dari Republika 22 Oktober 2001
[7] Republika 22 Oktober 2001
[8] Al-Qa’idah adalah sebuah Organisasi multi-nasional, yang anggotanya berasal dari berbagai Negara dan keberadaanya sudah mendunia. Pemimpin-pemimpin senior organisasi ini juga merupakan merupakan pemimpin-pemimpin senior dari organisasi-organisasi jihad lainya. Tujuan dari AlQa’idah adalah “menyatukan seluruh umat Islam dan mendirikan sebuah pemerintahan yang mengikuti ajaran khilafah .” Bin laden telah menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mendirikan khilafah di dunia Islam adalah dengan kekerasan. Oleh karena itu, tujuan dari al-Qa’idah adalah menggulingkan rejim sebagian besar-negara-negara muslim, yang dianggapnya korup, kejamdan untuk menyingkirkan pengaruh hegemoni barat dari Negara-negara tersebut, dan pada akhirnya tujuan menghapukan perbatasan antara Negara-negara tersebut. Lihat Wahyu D. Johani, Syekh Guevara Bin Laden;Sang Pemberontak Revolusioner, (Surabaya: ROTASI POLITIKA; 2002, cet I) h. 89-90
[9] Wahyudin, Ibid. 92-93
[10] Ibid. h. 96
[11] Ibid. h. 47
Konplik-konplik yang terjadi diantaranya di sebabkan oleh keinginan penguasa untuk mengauasai Afgaistan dengan cara apapun. Pertarungan antar suku menjadi pertarungan yang relative sering terjadi meskipun ini bukan satu-satunya penyebab pertikaian di Afganistan.
Secara kategoris ada beberapa penyebab pertikaian di Afganistan, diantaranya : pertarungan Suku, Pertarungan Madzhab, pertarungan ideology, bahkan pertarungan yang mengindikasikan pembelaan terhadap hak milik yang dimiliki oleh Afganistan sendiri.
Dari beberapa pengalaman yang pahit (pengalaman konplik yang terjadi) ternyata Afganistan menorehkan sebuah fenomena baru dalam pemerintahan yakni sebuah rezim yang berkuasa di Afganistan yang sebelumnya merupakan salah satu Alat (Amerika) untuk menyaingi Alat dari Negara Lain (Uni Soviet). Fenomena tersebut adalah Taliban.
Taliban adalah sebuah rejim yang dikuasai oleh mayoritas bahkan system pemerintahan yang dipakaipun adalah Sistem ‘Islam’. Dalam pembahasan ini akan diuraikan salah asatu bentuk (system) pemerintahan yang pernah berlaku di Afganistan dari sekian bamnyaknya bentuk pemerintahan yang pernah berlaku di Afganistan.
Pembahasan
Afganistan merupakan sebuah kawasan yang amat komplek yakni, sebuah wilayah yang memiliki kelebihan alam yakni daerahnya meliputi: padang pasir yang bergunug-gunung, Lembah yang subur, Sungai, dan Wadi yang terpencil.[1] Keadaan alam seperti inilah yang mkenguntungkan bagi Mujahidin dalam mempertahankan kawasanya sehingga sampai detik ini pun Afganistan belum 100% bersih dari cengkraman Mujahidin.
Afganistan merupakan Negara Republik di Asia Tengah; berbatasan dengan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tadzikistan di utara, RRC di timur laut, Pakistan di timur dan selatan, serta Iran di Barat.keadaan seperti inilah yang mengakibatkan banyak Negara-negara adiadaya khususnya Blok Timur (Uni Soviet) dan Blok Barat (Amerika dan sekutunya) menginginkan keberadaan Negara dengan salah satu poin yakni Afgan merupakan jalan darat termudah untuk menyalurkan hasil BUmi dari Turkmenistan (keinginan Barat). Ditambah Afganistan menyimpan cadangan minyak sebesar 260 milyar barel. Jumlah ini terbesar kedua setelah Teluk. Selain itu, di negeri ini pula terdapat kandungan 664 trilyun kaki kubik gas natural, yang berarti jumlah ini adalah 1/8 dari cadangan dunia. Afganistan juga mempunyai deposit uranium sangat besar.[2]
Selain daerahnya yang sangat strategis untuk sentar perdagangan dan eksploitasi, keadaan masyarakatnya pun mendukung akan adanya eksploitasi mengingat, banyaknya suku-suku yang berada di Afganistan, Pusthun 38 %, Uzbek, 6 %, Hazara 19 %, Tajik 25 %. Keadaan seperti inilah yang sering dijadikan komoditi untuk ‘mencaplok’ Afganistan mengingat di Afganistan terlihat adanya dominasi dari salah satu kelompok, kemudin kelompok-kelompok yang berada di Afganistan pun memiliki keterkaitan Ideologis dengan Negara-negara tertentu.
Hamper seluruh penduduk Afganistan menganut agama Islam. Agama Islam sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan mereka, bila hal ini terusik, maka rakyat Afganistan akan gusar dan mengangkat senjta untuk mempeerjuangkan Islam. Salah satu contoh adalah perjuangan mempertahankan Islam dari pemerintahan prokomunis.
Islam masuk ke Afganistan sejak Asim bin Umar Attamini masuk Afganistan yakni pada masa khalifah Umar bin Khatab. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Islam memasuki Kabul. Islam semakin mengakar terutama di bawah futuhat (penakluk) Mahmud Gaznawi.
Tercatat beberapa penaklukan dan bentuk pemerintahan pernah ada diu Afganistan. Afganistan menjadi semacam benda yang menarik untuk diperebutkan. Diantara penguasa-penguasa yang telah berhasil menduduki Afganistan adsalah : bangsa Monggol di bawah Jengis Khan tahu 1219, ketika bangsa Monggol mulai terpecah, banyak dari bangsa Afganistan memisahkan diri dan memebentuk pemerintahan, kemudian terjadi perang suku, maka muncullah Dinasti Durrani dibawah pimpinan Syah Durrani 1747, perang saudara terjadi lagi tahun 1819-1835 berakhir ketika Dost Muhammad mengangkat dirinya sebagai emir.
Percaturan politik di Afganistan tambah serui ketika dua blok adikuasa berkepentingan terhadap Afganistan, pertama, Blok barat yakni diwakili oleh Inggris ingin menguasai Afganistan setelah berhasil mengauasai India. Kedua, Blok timur yang diwakili oleh Uni Soviet sebelum akhirnya terpecah belah menjadi Negara-negara kecil.
Pertarungan kepentingan politik dipicu oleh doktrin geo politik Barat yang menempatkan Afganistan dan kawasan Asia Tengah sebagai pusat Dunia. Pertarungan politik ini disebut oleh pakar barat sebagai The Great Game.[3] The Great Game, berakhir 1907 dengan perjanjian Rusia-Inggris, yang menempatkan Afganistan harus dihormati Inggris maupun Rusia dan menjadi Negara pemisah (buffer state) antara imperialisme Inggris dan Rusia.
Konplik Afganistan kembali berkobar dengan masuknya kembali intervensi Asing dalam pemerintahan local, yakni ketika Muhammad Zahir Syah naik sebagai raja tahun 1933. Intervensi Amerika sanagt mengganggu pemerintahan Zahir Syah dengan membujuk Zahir Syah agar mengadakan revolusi kebudayaan, diperkeruh dengan keikut sertaan Uni oviet memberikan pengaruh kepada Zahir Syah, salah satu keberhasilan Uni Soviet adalah ketika Zahir Syah mengangkat sepupunya Muhammad Daud sevagai perdana mentri dan ia merupakan kader Komunis.
Melihat keadaan ini umat Islam merasa bahwa pemerintah Afgan merasa jauh menyimpang dari ajaran Islam, sehingga mereka mulai bergerak dengan membentuk Organisasi, maka muncullah perjuangan Gabungan mahasiswa Muslim yang bernama Juanan Muslim, kemudian berubah nama menjadi al-Jamiah al-Islamiyyah (1968), di bawah pimpinan Burhanuddin Rabbani.
Dalam pemerintahan, muncul pemerintahan tandingan dari pihak Mujahiddin. Pemerintah ini diakui kebanyakan Negara timur tengah. Bahkan wakil Negara-negara Islam timur tengah, pada tanggal 11 November 1991 delegasi dipimpin oleh Rabbani mengadakan kunjungan ke Uni Soviet dengan maksud untuk mengadakan perundingan damai setelah 13 tahun berperang.
Konplik Politik Afganistan
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat di runut sebagi sumberkonplik di Afganisan: pertama, Konplik antar suku (perang saudara), Kedua, konplik kepentingan politik blok barat dan Blok Timur, Ketiga, konplik ideology dan kepentingan Amerika.
Pertama, Konplik yang didasari oleh Pertarungan antar Suku, konplik ini setidaknya terjadi atas dominasi-dominasi suku tertentu untuk mengauasai Afganistan, kedua keadaan politik Afganistan yang tidak menentu sehingga menyebabkan banyak terjadi kudeta yang dilakukan meski bukan atas nama suku tertentu.
Kedua, Konplik politik yang disebabkan oleh kepentingan politik dua Blok dunia yang menjadi Adi Kuasa, yakni mereka memeliki kepentingan politik jangka panjang untuk mengauasai Afganistan, maka segala hal yang ada di Afganistan akan dijadikan alat untuk mencapai kekauasaan tersebut, terbukti dengan banyaknya penguasa yang akhirnya berideologi tertentu dan melakukan kudeta atas permintaan penguasa dibeklangnya.
Ketiga, mungkin ini yang belum banyak tereksplorasi dalam prolog diatas, tapi sebagai pengantar bagai mana kita melihat sebuah realita penyebab Amerika membenci ‘Islam’ yang diyakini oleh Taliban. Apakah itu murni kebencian atas Agama? Atau bahkan ada sebuah harapan yang besar dari sesuatu yang dimiliki oleh Afganistan? Sebagai bahan catatan Taliban merupakan Anak kandung dari Amerika (keberadaanya pernah didanai olehAmeriika).
Setidaknya itu gambaran umum konplik yang terjadi di Afganistan, hamper seluruhnya bermotif kepentingan. Adapun periodesasi setidaknya terbagi kedalam 11 periode : Pertama, sebelum tahun 651 M. yang diinamakan periode sebelum Islam. Kedua, Tahun 624-1747 M disebut Afganistan di bawah Pengaruh Islam. Ketiga, tahun 1747-1826 M, Kekuasaan Dinasti Durrani. Keempat, tahun 1929-1973 M, Dinamakan Dinasti Nadzir Syah dan Zahir Syah. Ketujuh, 1973-1978 M dinamakan Republik Afganistan Daud. Kedfelapan, 1978-1992 M dimnamakan masa intervensi Soviet Union. Kesembilan, 1992-1994 M Najibullah rabbani berkuasa.[4]Kesepuluh, 1996-2001 Pemerintahan Islam Taliban berkuasa. Kesebelas, 2001-sekarang pemerintahan boneka Amerika Serikat.[5]
Sistem Pemerintahan Taliban
Taliban adalah sebuah gerakan para pelajar Islam (Al Harakah Al Islamiyah Lit Thalabah madaris Ad Diiniyyah) yang sedang belajar di Pakistan. Kata Taliban berasal dari Bahasa Afganistan yang serupa dengan bahasa Arab yang berarti Pelajar. Berikut data-dta Taliban.
Bendera Taliban berwarna Putih beruliskan “laa Ilaaha Illa Allah, Muhama Rasulullah.” Menilik dari benderanya ini jelas kelihatan bahwa Taliban memakai symbol-simbol keagamaan dalam perjalanan politiknya.
Kelahiran Taliban dilator belakangi oleh banyak factor, secara umum dapat dikategorikan kedalam dua bagian. Pertama, Faktor internaldisebabkan adanya perang saudara, konplik dan pembu nnuhan antara penganut Syiah dan Sunni, demoralisasi, praktek dan KKN. Faktor kedua, yakni Eksternal yakni pengaruh dan tekanan Pakistan yang ingin mengganti penguasa sebelumnya, Burhanuddin Rabbani , dengan pemimpin oposisi terbesar, Hekmatyar dan Syah Masood, serta dukungan AS terhadap gerakan Taliban.
Gerakan Taliban didirikan pada Juli 1994 diwilayah Kandahar, selatan Afganistan. Pada Oktober 1994 secara resmi diproklamirkan, pada 1955 mereka mengauasai beberapa kota penting termasuk Kabul. Pada 1996 Tasliban resmi berkuasa dan pemimpin sebelumnya melarikan diri ke wilayah utara, yang hingga kini masih dikuasai oleh kelompok Oposisi pro Barat.
Taliban lebih condong kepada suku terbesar Pasthun 38 %. Sasaran dari pendirian Taliban adalah mendirikan pemerintahan Islam dengan syariat Islam sebagai dasar Negara. Memilih para ulama dan tokoh Islam yang amanah untuk menduduki jabatan pemerintahan Negara. Bagi wanita diwajibkan memakai jilbab. Selkain itu, membentuk tentara Islam sebagaimana masa Rasulullah dan mendirikan lembaga Amar makruf nahi Munkar.
Pemikiran Islam yang diikuti oleh Taliban adalah Aliran maturidiyyah (bagian dari aliran Sunni) yang meyakini ikhtiar (usaha), sebaliknya menolak paksaan sebagai mana dianut aliuran mu’tazilah. Dari segi Fiqih Taliban menganut Madzhab hanafiyyah sebagai madzhab resmi Negara.
Pandangan mengenai Pemerintahan[6]
Taliban Tidak Mengakui keberadaan Demokrasi, bentuk pemerintahan menurut Taliban adalah dengan bentuk Teokrasi dimana kekuasaan sepenuhnya milik Allah. Untuik menjalankan roda pemerintahan, berada di tangan Amirul Mukminin yang dipilih dari dewan Ulama., Taliban tidak percya terhadap asas syura, keputusan terakhir berada di tangan Amir. Taliban juga mengharamkan segala sarana informasi.
Jabatan tertinggi adalah Amirul Mukminin, yang kini dipegang oleh Mullah Muhammad Omar. Perintah dan keputusan amir wajib dilaksanakan dan tidak boleh bertentangn dengan prinsif Islam. Jabatan Amirul mukminin dipegang seumur hidup dan ini berlaku secara bakju dalam system hokum pergantian aparatur pemerintahan. Pelaksana harian pemerintahan dipegang oleh Wakil Amir, adapun kerja dari Wakil Amir yakni mengadakan siding cabinet seminggu sekali, majelis pelaksanan pemerintah tersebut disebut Majlis Syura Alamy.
Pengambilan keputusan akhirnya dikeluarkan oleh Amirul mukminin, meski terdapat Dewan Syura (pelaksanan pemerintahan), tapi lembaga ini tidak mempunyai konsep baku, karena segala keptusan yang dikeluarkan harus melalui persetujuan akhir Amir dan ini menjadi sebuah peraturan yang baku
Taliban memiliki Dewan Fatwa Ita’ Pusat (semacam MUI) beranggotakan para ulama terkenal beramanah. Tugasnya memberikan penjelasan berkaitan masalah agama dan mengeluarkan fatwa penting.
Dalam perjalanan karirnmya Taliban merupakan salah satu fenomena Negara Islam yang cukup berarti bagi masyarakat Afganistan, seperti telah dipaparkan diatas bahwa keadaan pemnerintahan di Afganistan tidaklan bersih banyak praktik-praktik KKN, demoralisai, bahkan sampai kepada masalah yang frinsipil yakni bnayk dari pemangku jabatan pemerintah yang telkah ikut Beraffiliasi dengan pemerintahan lain-Rezim Komunis Uni Soviet dan Rezim Kapitalistik Inggris dan Amerika- sehingga membuat keadaan rakyat tidak menentu secara financial.
Maka dengan hadirnya kelompok Taliban yang sebelumnya merupakan sekumpulan peljar yang bearni untuk berperang mempertaruhkan nyawa demi keutuhan Negara dan kejayaan Islam.
Kasus-kasus tersebut dapat diselesaikan dengan bentuk pemerintahan yang sentralistik yakni segala keputusan akhirnya dikeluarkan oleh Amir Mukminin meskipun sebelumnya telah ditetapkan hokum oleh pelkaksanan pemerintahan.
Kepemimpinan seumur hidup mengingatkan kepada sebuah system pemerintahan Gaya Rasulullah dan Khulafaurrasidiin, yakni seluruhnya diganti ketika azal menjemput mereka. Mungkin landassan sosio histories ini yang menjadi landasan mereka.
‘Ayah’ membenci Taliban
Taliban seperti yang telah disebutkan di atas ada beberapa indikasi kalau Taliban didanai oleh Amerika dengan perantara Pakistan. Burhanuddin Rabbani, mantan kepala pemerintahan koalisi Afganistan dari etnis Tajik, mengatakan Taliban dibentuk, dilatih, dan dipersenjatai AS di Pakistan saat itu asdalah menghakhiri pemerintahan minoritas Tajik dan Uzbek, dan mnegmbalikanya ketangan Pastun.[7]
Setidaknya Ada dua alasan yang bisa dijabarkan di sini , Prtama, Taliban tidak membalas budi terhadap Pakistan khususnya Amerika, dan malah mendirikan Negara Islam versi Taliban. Kedua, setelah berkuasa Taliban yang termasuk kelompok mujahidin yang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, memberikan pembelaan bahkan perlindunganm terhadap Osama bin Laden pemimpin Al-Qai’dah[8]
Pembelaan Taliban terhadap Osamapun bukan tanpa alasan, mengingat Osama adsalah pejuang Islam yang tidak kenal lelah membantu perjuangan MUjahidin Afganistan dalam menciptakan kemerdekaanya. Politik balas budi ini yang sangat menarik untuk dikaji, mengingat dengan adanya politik balas buudi tersebut segala akses Taliban bahkan pemerintahan Taliban dengan mudahnya di hancurkan oleh Amerika.
Ada beberapa bentuik perjanian bahkan himbauan terhadap Taliban untuk mnyerahkan Bin Laden, pada bulan Fewbruari 1997 Taliban menolak perjanjian Amerika untuk mnyerahkan bin Laden kepada mereka dengan imbalan pengakuan internasioinal dan kursi di organisasi internasional di Afganistan.[9] BAB VII dari piagam PBB, Dewan Keamanan pada tanggal 15 Oktober 1999 menghimbau kepada faksi Afganistan yang dikenal dengan nama yaliban, untuk mnyerahkan Osama bin Laden ke pihak berwenang di sebuiah Negara dimana ia dapat diajukan kepengadilan. Dalam kontek yang sama, Dewan keamanan memutuskan bahwa pada tanggal 14 November 1999 seluruh Negara akan memnbekukan rekening Taliban dan melarang penerbangan dan pendaratan pesawat Taliban kecuali Taliban himbauan menyetujui himbauan tersebut. Karena tidak dihiraukan himbauan tersebut, maka resolusi tersebut dijlankan.[10]
Mungkin itulah perjalanan karir dari Taliban di Afganistan secara structural mengauasai Negara, namun perjuangan mereka masih belum usai terbukti dengan ucapan Mullah Muhammad Umar, pemimpin tertinggi Taliban “ Kami memiliki senjata yang dapat digunakan untuk melakukan peperangan hingga 60 tahun ke depan.”[11] Ini merupakan suatu bukti bahwa semangat perjuangan untuk menegakan kalimat Islam terus berkobar. Wallahu’alam.
Daftar Pustaka
Buku
Maulani, Z.A, Perang Afganistan; Perang Menegakan Hegemoni Amerika di Asia Tengah, (Jakarta : Dalacanang Seta, 2002
Ensiklopedia Indnesia Seri Geografi, (Jakarta : PT. Internasa, 1990, cet I)
Mahally, Abdul Halim, Membongkar Ambisi Global AS, (Jakarta : PT SUrya Multi Grafika, 2003, Cet I)
Johani, Wahyu D. Syekh Guevara Bin Laden;Sang Pemberontak Revolusioner, (Surabaya: ROTASI POLITIKA; 2002, cet I
Disarikan dari Republika 22 Oktober 2001
www. Wikipediaindonesia.com
[1] Z.A maulani, Perang Afganistan; Perang Menegakan Hegemoni Amerika di Asia Tengah, (Jakarta : Dalacanang Seta, 2002)h. 1-3
[2] Republika 22 Oktober 2001
[3] The Great Game dimulai ketika Inggris ingin mendahului Rusia dalam mengausai Afganistan. Lihat Republika, 22 oktober 2001
[4] Ensiklopedia Indnesia Seri Geografi, (Jakarta : PT. Internasa, 1990, cet I) h. 25-27
[5] Abdul Halim Mahally, Membongkar Ambisi Global AS, (Jakarta : PT SUrya Multi Grafika, 2003, Cet I)h. 49
[6] Disarikan dari Republika 22 Oktober 2001
[7] Republika 22 Oktober 2001
[8] Al-Qa’idah adalah sebuah Organisasi multi-nasional, yang anggotanya berasal dari berbagai Negara dan keberadaanya sudah mendunia. Pemimpin-pemimpin senior organisasi ini juga merupakan merupakan pemimpin-pemimpin senior dari organisasi-organisasi jihad lainya. Tujuan dari AlQa’idah adalah “menyatukan seluruh umat Islam dan mendirikan sebuah pemerintahan yang mengikuti ajaran khilafah .” Bin laden telah menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mendirikan khilafah di dunia Islam adalah dengan kekerasan. Oleh karena itu, tujuan dari al-Qa’idah adalah menggulingkan rejim sebagian besar-negara-negara muslim, yang dianggapnya korup, kejamdan untuk menyingkirkan pengaruh hegemoni barat dari Negara-negara tersebut, dan pada akhirnya tujuan menghapukan perbatasan antara Negara-negara tersebut. Lihat Wahyu D. Johani, Syekh Guevara Bin Laden;Sang Pemberontak Revolusioner, (Surabaya: ROTASI POLITIKA; 2002, cet I) h. 89-90
[9] Wahyudin, Ibid. 92-93
[10] Ibid. h. 96
[11] Ibid. h. 47

Tidak ada komentar:
Posting Komentar